Indonesia yang akan mengadakan Pemilu Serentak dimana Pemilu Legislatif ( Pileg ) dan Pemilu Presiden ( Pilpres) akan dilaksanakan pada waktu yang sama pada 17 April 2019 mendatang.. Pemilu dan kampanye yang berbarengan, antara Pileg dan Pilpres, membuat Pileg sepi, tertutup oleh kampanye dan pemberitaan Pilpres.
Membuat Pileg menjadi sepi dan Pilpres menjadi gaduh. Masih adakah Pileg kita? Jangan sampai Pileg terkubur oleh hiruk pikuk kampanye capres dan cawapres semata. Masa kampanye Pileg dan Pilpres yang cukup panjang, dari 23 September 2018 – 13 April 2019 membuat para caleg, capres, dan cawapres memutar otak dan mengatur strategi agar tidak kehabisan amunisi di tengah jalan. Ibarat lari maraton, jika ritme lari tidak diatur, maka bisa jatuh tersungkur, dan tidak akan sampai garis finish.
Dengan masa kampanye yang cukup lama dan panjang tersebut, bagi capres dan cawapres berkantong tebal, mereka akan tancap gas menyapa rakyat: ada yang silaturrahmi ke pesantren-pesantren, pabrik, pasar, sawah, tempat bencana, bertemu emak-emak, kaum milenial, bahkan kaum buruh. Namun bagi capres berkantong tipis, demi mengirit logistik, hanya akan berjalan merayap hingga akhir tahun. Dan bisa saja akan berlari kencang, di awal tahun demi memenangkan pertarungan.
Pilpres yang rame dan Pileg yang sepi. Pilpres menjadi rame, karena terjadi head to head antara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi. Remarch Pilpres 2014 terjadi lagi di 2019. Jokowi-Prabowo bertarung kembali. Hanya berganti dicawapres saja. Pileg, walaupun diisi oleh banyak artis yang menjadi caleg. Tetap miskin pemberitaan. Dan sepi gosip politik.
Artis yang tenar di dunia entartainmen. Belum mampu dan tidak berhasil menjadikan publikasi dan kampanye Pileg lebih tenar dari pemberitaan Pilpres. Pileg hanya berada dalam bayang-bayang Pilpres. Padahal Pileg dan Pilpres sama-sama pentingnya. Karena hasil Pileg dan Pilpres akan menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.
Media lebih tertarik memberitakan kampanye-kampanye Pilpres, jika dibandingkan dengan Pileg. Oleh karena itu, wajar jika kampanye Pileg tertutup oleh pemberitaan Pilpres. Padahal Pemilu 17 April 2019 yang akan datang, bukan sekedar Pilpres. Tapi Pileg juga. Pemberitaan Pilpres memang menjadi primadona. Dan akan terus mendominasi dalam pemberitaan kampanye-kampanye selanjutnya.
Sepinya kampanye Pileg, bisa saja para caleg enggan mengeluarkan logistik dan menyimpan sumber-sumber dana, untuk berkampanye di media. Partai-partai politik juga masih diam seribu bahasa, dan belum beriklan di media massa. Partai politik dan para calegnya, bisa saja mengempur pemberitaan di media massa, pada detik-detik akhir masa kampanye. Atau kita kenal dengan istilah main diujung. Ya, main diujung.
Permainan diujung atau di the last minute atau injury time, memang mengurangi biaya politik. Dan lebih efektif. Karena masyarakat akan mengingat kampanye atau iklan yang dilihat terakhir kalinya. Jadi jika kampanye jor-joran diawal, memang akan kehabisan nafas dan logistik, sehingga bisa berhenti diakhir perjalanan. Dan bisa disalip ditikungan oleh lawan.
Pileg tidak kalah pentingnya dengan Pilpres. Memastikan partai politik dan para calegnya berkampanye dengan menawarkan program-program terbaiknya adalah keniscayaan. Jangan sampai caleg hanya diam, menghindar dari konstituen, dan baru bergerak ketika masa kampanye akan berakhir. Sungguh sayang, jika masyarakat tidak tahu dan tidak mengerti program-program para calegnya.
Jangan sampai para caleg hanya berfikir, buat apa berkampanye, cukup siram logistik, dan tebar amplop di hari pencoplosan sudah beres. Caleg seperti inilah, yang berbahaya dan menumbuh suburkan benih-benih korupsi di Indonesia. Namun fakta dan kenyataannya ada. Hadir mewarnai setiap kontestasi politik di Indonesia. Baik dalam Pilkada, Pileg, ataupun Pilpres.
Berdasarkan pengakuan caleg-caleg pada Pemilu 2014 yang lalu. Dan sudah bukan rahasia umum lagi. Para caleg bukan hanya tebar pesona, ternyesum, dan menyapa. Tetapi juga tebar amplop, dalam satu dapil seorang caleg, bisa menebar amplop hingga 500-800 ribu amplop. Mengerikan dan memprihatinkan. Pileg yang kelihatannya sepi. Bisa jadi menyimpan bara pertarungan yang tak kalah sengitnya dengan Pilpres.
Jika pada Pileg 2019 nanti, cara-cara culas ini masih terjadi, maka rusaklah demokrasi. Karena suara pemilih dapat dibeli. Dan yang lebih mengerikan, jika setiap caleg partai menyiapkan amplop, maka sudah bisa dibanyangkan, berapa banyak peredaran uang di hari pencoblosan. Demokrasi memang berbiaya mahal. Namun membeli suara demi memenangkan pertarungan, sama saja menghancurkan demokrasi itu sendiri. Demokrasi yang mahal. Bukan alasan bagi para caleg untuk membeli suara.
Gaduh di Pilpres. Namun senyap di Pileg. Sepinya kampenye Pileg, membuat satu ketua umum partai politik, meminta kepada KPU agar memperbanyak dan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Karena jika tidak tersosialisasikan dengan baik. Jangan-jangan masyarakat hanya tahunya Pilpres. Padahal, pada 17 April 2019 nanti, masyarakat akan menerima lima kertas suara, satu untuk Pilpres, Dan empat lagi untuk Pileg. Artinya kertas suara untuk Pileg lebih banyak dari pada kertas suara Pilpres yang hanya satu.
Jadi, sejatinya kampenye Pileg, harus lebih massif dan lebih greget dari Pilpres. Karena bagaimana pun, Pileg merupakan ajang pertarungan hidup mati partai politik. Partai politik yang tidak lolos PT 4% akan terkubur dengan sendirinya. Mati dan tidak akan bisa ikut Pemilu berikutnya.
Karena Pileg merupakan hidup mati partai-partai politik dan para calegnya. Menang di Pilpres dan Pileg sekaligus memang menyenangkan. Dan juga membanggakan. Namun jika menang di Pilpres, lalu kalah di Pileg, percuma dan tak berguna. Ya, percuma. Karena hanya akan sia-sia. Capres dan cawapresnya menang. Namun partai politiknya terbenam.
Sesungguhnya, jika berfikir rasional, pragmatis, dan realistis. Maka, memenangkan Pileg, bagi partai-partai dan caleg adalah wajib. Ya, kewajiban. Namun untuk Pilpres, hanya sunnah. Jadi Pileg lebih utama dari Pilpres. Jika menang kedua-duanya, itu bonus dan keberuntungan. Karena dipolitik, keberuntungan terkadang menjadi sesuatu yang harus disyukuri dan dinikmati. Karena dipolitik ada yang beruntung. Dan ada juga yang buntung.
Tidak heran dan tidak aneh. Jika banyak partai berfokus, dan berkonsentrasi untuk memenangkan Pileg. Tidak dan bukan untuk Pilpres. Wajar dan rasional, agar tidak terjungkal. Pilihan terbaik dan menarik agar tetap eksis.
Karena eksistensi partai-partai politik ditentukan di Pileg. Bukan Pilpres. Pileg adalah wajib. Sedangkan Pilpres adalah sunah. Tapi mengapa kampanye yang wajib sepi. Sedangkan yang sunnah rame dan menyedot perhatian masyarakat dan media. Lalu apa untungnya Pileg untuk kita!.
Sumber: Akurat.co

0 komentar :
Posting Komentar